BI Dorong Pertumbuhan Sektor Riil

(19 Jun 2007)
* Teken MoU Tentang Skim Penjaminan Kredit UMKM

MAKASSAR — Sektor riil unggulan Sulsel seperti kakao, pangan (beras), dan pariwisata, surut dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, BI Makassar membuat terobosan skim penjaminan sektor UMKM.Deputi Gubernur Bank Indonesia Bun Bunan EJ Hutapea mengharapkan penandatanganan MoU ini merupakan langkah awal.

Implementasinya harus didukung dengan pengembangan infrastruktur, aspek kenyamanan, dan keamanan. “BI mendorong melalui pendekatan kebijakan moneter. Tetapi itu tidak cukup tanpa dukungan lain seperti pengembangan infrastruktur, keamanan dan kenyamanan,” jelas Bun Bunan.

Sementara Pemimpin BI Makassar M Zaeni Aboe Amin menjelaskan perkembangan ekonomi nasional selama triwulan I 2007 relatif membaik. Pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen. Beberapa sektor mengalami pertumbuhan menonjol, antara lain sektor pengangkutan dan komunikasi (11,1 persen), sektor konstruksi (9,3 persen), sektor perdagangan, hotel dan restoran (8,5 persen) serta sektor listrik, gas dan air tumbuh (8,2 persen).

Sejalan dengan itu, pada Juni 2007 pemerintah memberlakuan Inpres No 6/2007 tentang Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Inpres ini untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi tingkat pengangguran serta kemiskinan.

“Momentum pertumbuhan ekonomi rata-rata 6 persen triwulan pertama 2007 serta target pertumbuhan 6,3 persen 2007 dan 6,6 persen-6,9 persen 2008 oleh pemerintah bersama DPR harus ditangkap dengan mengoptimalkan seluruh potensi unggulan,” tuturnya.

Menurut dia, implementasi dari target tersebut harus didukung daerah. Bagi BI Makassar sendiri, kata Zaeni, terus berupaya mendorong sektor riil melalui intermediasi perbankan. Salah satunya, lewat nota kesempatan yang ditekan antara BI Makassar, PT Bank Sulsel, PT Askrindo serta Pemerintah Daerah, DPRD Kabupaten Sidrap dan Luwu Utara mengenai skim penjaminan kredit daerah dalam pengembangan klaster UMKM.

“Dukungan pembiayaan perbankan sangat diperlukan UMKM, di sisi lain terdapat kelemahan UMKM untuk memenuhi persyaratan bank teknis terutama pemenuhan penjaminan kredit. Karena itu diperlukan terobosan melalui skim penjaminan kredit daerah yang menggunakan dukungan asuransi kredit,” urainya.

Pembiayaan pada UMKM lanjut dia, akan dikembangkan dengan jangkauan lebih luas. “Kami memberikan apresiasi atas inisiatif Pemkab Sidrap dan Luwu Utara didukung DPRD masing-masing, untuk memanfaatkan skim pembiayaan ini. Kami berharap daerah-daerah lainnya mengembangkan pola serupa,” tutur Zaeni.

* Dorong Pengembangan Wisata

Potensi pariwisata di Sulsel belum tergarap maksimal. Karena itu, BI mendukung pemetaan potensi bekerja sama BPD PHRI Sulsel, Akpar Fajar, dan Bank Danamon untuk dijadikan acuan pengembangan ke depan.

Deputi Gubernur BI Bun Bunan EJ Hutapea mengatakan sektor pariwisata pernah menjadi primadona Sulsel. Karena itu perlu ada dorongan untuk mempercepat proses recovery dan demi kesinambungan ke depan.

“Perkembangan pembangunan fisik yang pesat di Makassar dapat menjadi salah satu daya tarik dalam mengembangkan industri pariwisata yang menawarkan keindahan dan keunikan tradisi di seluruh Sulsel,” kata Bun Bunan.

Direktur Akpar Fajar M Hatta Alwi menjelaskan kerja sama ini sebagai wujud keprihatinan atas kondisi pariwisata di daerah ini. Anjloknya pariwisata mulai melanda pascatragedi bom Bali I 2002. “Berbagai upaya telah dilakukan namun belum juga mengembalikan kejayaan pariwisata di Sulsel. Padahal sektor ini sangat strategis dan memiliki multiplier effect dalam mendorong pertumbuhan ekonomi,” jelas Hatta.

Karena itu, Hatta menilai bahwa langkah BI mendorong sektor ini karena potensinya cukup besar perlu didukung semua pihak. Tidak hanya dari para pelaku industri pariwisata, kampus yang mencetak SDM pariwisata tetapi juga dukungan perbankan.

Implementasi dari komitmen itu dituangkan dalam nota kesepahaman yang diteken pihak-pihak terkait dengan disaksikan Deputy Gubernur BI Bun Bunan EJ Hutapea dan wakil dari Pemprov Sulsel di kantor BI.

Menurut Hatta, untuk tahap awal, penelitian akan difokuskan di Makassar. “Hasil kajian ini nantinya diharapkan dapat memberikan rekomendasi nyata dan dapat diterapkan oleh semua pihak terkait sehingga industri pariwisata dapat berkembang dan berdampak positif pada pergerakan sektor riil,” terangnya.

Selain kajian, lanjut dia untuk skim-skim pembiayaan dan pembinaan pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang bergerak di sektor pariwisata juga tercakup dalam kerja sama tersebut. Untuk diketahui, sektor pariwisata ini yang meliputi perdagangan, hotel dan restoran termasuk penyumbang PDRB. Sayangnya, sejak 2005 kontribusinya terus menurun yakni dari 1,27 persen (kuartal IV 2005) turun menjadi 1,11 persen (kuartal I 2006). Pada kuartal pertama 2007 kontribusinya turun menjadi 0,99 persen. (upi)

Source : http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=36663

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s