Rencana Tindak, Bunga Tinggi,dan Penyelundupan

Kamis, 14 Juni 2007
PAKET kebijakan ekonomi dalam Inpres No 6/2007, kalau diibaratkan obat penyembuh ekonomi nasional yang sakit, dia masih jauh dari mujarab. Dia bahkan belum boleh dikonsumsi oleh pasiennya.

Bahwa paket itu sedikit meningkatkan keyakinan, barangkali benar. Masalahnya, untuk menyembuhkan ekonomi nasional yang sakit-sakitan sekarang ini, paket kebijakan dalam Inpres No 6/2007 itu tidak bisa diharapkan bekerja sendiri karena dia hanya tumpukan kertas yang memuat rencana tindakan pemerintah. Justru tindakan pemerintah-bersama otoritas moneter tentu saja- yang sesungguhnya akan menentukan apakah ekonomi nasional akan terus-terusan sakit, atau sebaliknya bisa disembuhkan secara bertahap.

Karena itu, semua orang berharap 141 rencana tindak dalam Inpres No 6/2007 akan langsung menyentuh inti persoalan, atau semua faktor yang menjadi penyebab ekonomi nasional sakit-sakitan. Seperti sudah berulangkali dikemukakan, ada masalah serius pada iklim berusaha dan investasi. Dalam Inpres No.6/2007, terbaca bahwa pemerintah ingin membuat kita memiliki daya tarik, dengan menyiapkan 41 langkah untuk memperbaiki investasi. Kalau 41 langkah itu membuahkan hasil, kita boleh sedikit berharap. Sebab, masih ada persoalan lain yang tak kalah strategisnya.

Suku bunga kredit yang tinggi serta sulitnya mendapatkan akses ke sumber-sumber pembiayaan adalah soal klasik yang belum terpecahkan hingga kini. Setelah implementasi otonomi daerah (otda), muncul soal beda persepsi antara Jakarta dan daerah. Persoalan lain yang ditakuti para calon investor adalah pasar dalam negeri yang terdistorsi, akibat banjir barang selundupan untuk berbagai jenis dan kategori produk, dari panci untuk dapur, obat-obatan, tekstil dan produk tekstil, produk elektronik hingga besi baja.

Dalam Inpres No.6/2007, pemerintah berniat meningkatkan akses UMKM terhadap sumber pembiayaan, dengan mengeluarkan 13 dari 29 kebijakan. Fokus pemberdayaan UMKM adalah peningkatan akses pembiayaan, termasuk kapasitas kemampuan penjaminan dari beberapa lembaga penjaminan kredit. Harap diingat bahwa niat membuka seluas-luasnya akses ke sumber pembiayaan (bank) bagi UMKM bukan baru kali ini. Sudah berulang kali dicoba, tapi tetap saja pelaku UMKM merasa sulit mendapatkan akses dimaksud.

Belum lagi masalah suku bunga kredit yang tinggi, yang menyebabkan daya serap pasar begitu rendah atas porsi kredit yang dialokasikan perbankan. Semua orang mengeluh akan tingginya bunga perbankan dewasa ini. Tingginya bunga kredit dewasa ini kurang bisa diterima, karena biaya dana yang ditanggung bank terus menurun. Biaya dana yang ditanggung bank tercermin dari turunnya suku bunga deposito dari 12,01 persen per Januari 2006 menjadi 8,13 persen per Maret 2007. Turunnya suku bunga deposito dipicu oleh penurunan BI Rate yang mencapai 425 basis poin sejak akhir 2006.

Soal akses UMKM ke sumber pembiayaan dan masalah suku bunga tentu mengharuskan pemerintah berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI). Agar koordinasi itu produktif, rivalitas Thamrin (BI) versus Lapangan Banteng (Departemen Keuangan) dikesampingkan dulu.

Menteri Keuangan juga menghendaki Direktorat Jenderal Bea Cukai memperlancar arus barang. Menurut kita, Menkeu sebaiknya memerintahkan aparat Bea Cukai lebih jujur dalam memerangi penyelundupan. Industri dalam negeri sudah tak kuat lagi menghadapi arus masuk beragam barang selundupan. Kalau saja 141 rencana tindak dari Inpres No 6/2007 itu dilengkapi dengan penurunan suku bunga serta perang terhadap penyelundupan, ekonomi nasional punya harapan untuk sembuh.***

Source : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=175242

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s